Nalurimedia.id, Samarinda – Suasana menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terlihat di sejumlah sudut Kota Samarinda. Pedagang bendera dan pernak-pernik bernuansa merah putih kembali memanfaatkan momentum tahunan tersebut untuk berjualan.
Kendati turut menambah semarak perayaan kemerdekaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengingatkan para pedagang agar tetap memperhatikan ketertiban dan tidak memanfaatkan trotoar maupun saluran drainase sebagai tempat berjualan.
Kepala Satpol PP Kota Samarinda, Anis Siswantini mengatakan keberadaan pedagang bendera merupakan aktivitas musiman yang biasa muncul menjelang perayaan 17 Agustus.
Menurutnya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, aktivitas pedagang bendera di pinggir jalan saat ini sudah lebih minim. Sejumlah pedagang juga disebut mulai menyesuaikan lokasi berjualan agar tidak menganggu fungsi dari fasilitas umum.
“Itu biasa, kan musiman. Tapi sekalipun itu musiman juga tidak boleh di trotoar. Dan di atas parit juga tidak,” ujar Anis.
Dalam penertiban, kata dia, Satpol PP tidak langsung mengambil langkah pengusiran terhadap pedagang. Petugas lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan memberikan pemahaman agar aktivitas berjualan tetap berjalan tanpa mengganggu fasilitas umum.
Anis menyebut keberadaan pedagang bendera juga memberikan warna tersendiri bagi Samarinda menjelang peringatan kemerdekaan, terutama dengan hadirnya berbagai ornamen merah putih di sejumlah kawasan.
“Bukan berarti kita membolehkan cantik tapi melanggar aturan. Diminimalkan,” katanya.
Dari hasil pemantauan serta komunikasi petugas dengan sejumlah pedagang, aktivitas penjualan bendera tahun ini dinilai lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Beberapa pedagang yang ditemui Satpol PP juga mengakui adanya penurunan penjualan.
Meski aktivitasnya cenderung berkurang, Satpol PP tetap mengingatkan pedagang untuk tidak menggunakan trotoar, drainase maupun fasilitas publik lainnya sebagai tempat berjualan.
Anis mengatakan persoalan penggunaan fasilitas umum oleh pedagang juga ditemukan pada aktivitas pedagang kaki lima (PKL) lainnya di Samarinda. Namun, ia melihat adanya perkembangan positif karena sebagian pedagang mulai memahami pentingnya menjaga fungsi fasilitas umum ketika menjalankan usaha.
“Sampai akhir Agustus juga selesai, tidak beroperasi lagi,” tegasnya.






