DPRD PPU Soroti Dampak Karhutla, Mulai Dari Hubungan Antar Negara, ISPA, Hingga Sektor Pertanian

Foto: Anggota Komisi II DPRD PPU, Syafrudin HR.

Nalurimedia.id, PPU- Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Syafrudin HR menyoroti dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan yang terjadi sepanjang puncak El-Nino Godzila. Utamanya terkait dampak dari asap yang menyebar hingga negara lain dan juga meningkatnya penyakit Infeksi Pernafasan (ISPA) hingga pertanian.

Menurut Syafrudin, karhutla bukan hanya persoalan daerah karena asap yang ditimbulkan dapat berdampak lebih luas, termasuk terhadap kesehatan masyarakat dan hubungan dengan wilayah negara tetangga.

“Masalah kebakaran hutan ini bukan masalah daerah saja, tapi masalah nasional bahkan internasional. Kita dekat dengan Malaysia dan Singapura. Kalau ada seperti itu, bagaimana pandangan negara sebelah terhadap kita. Belum lagi potensi ISPA karena asap,” katanya.

Di sisi lain, Syafrudin menilai dampak kemarau panjang juga mulai dirasakan sektor pertanian PPU. Sebagian lahan pertanian masyarakat masih mengandalkan sistem tadah hujan sehingga sangat rentan ketika musim kering berlangsung panjang.

“Bagaimanapun sampai kapan pun kalau musim kering pasti ada yang kekurangan air. Kita ini memang tadah hujan. Salah satunya, kalau ada ratusan hektare ditanam, paling tidak satu hektare dibuatkan embung,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar pembangunan embung dilakukan pada kawasan kelompok tani sebagai cadangan air ketika kemarau. Menurutnya, keberadaan embung dapat membantu petani mengurangi risiko gagal panen.

“Setiap kelompok tani itu paling tidak ada dibuatkan embung. Embung-embung itu untuk penampungan air. Kalau musim kemarau berkepanjangan seperti ini, paling tidak ada yang bisa menolong petani,” katanya.

Syafrudin menyebut persoalan ketersediaan air menjadi salah satu kendala yang telah lama dihadapi PPU. Ia mengatakan kebutuhan air untuk pertanian masih menjadi persoalan, sementara kondisi sumber air dan layanan air bersih juga ikut terdampak saat musim kering.

“Kendala kabupaten ini dari dulu cuma air. Kita sudah sering minta bagaimana air dari Long Kali bisa masuk ke sini, tapi sampai sekarang belum ada. Jadi kita memang tadah hujan terus,” ujarnya.

Jika kondisi kering berlangsung hingga awal tahun, Syafrudin memperingatkan ancaman terhadap produksi pertanian akan semakin besar. Kondisi gagal panen, menurutnya, bukan sekadar kemungkinan karena sebelumnya sudah dialami petani.

“Jelas sudah, ini sudah dialami petani. Sudah berkali-kali seperti itu,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *