Nalurimedia.id, Samarinda – “AKSI HIJAU” yang digelar Forum Nasional Sosial Masyarakat BEM SI Wilayah Kalimantan (VIII) bersama komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, dan Polairud Jakarta menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas elemen dapat mengurangi masalah sampah di bantaran Sungai Karang Mumus. Kegiatan sederhana memungut sehelai sampah mengirimkan pesan kuat, perubahan besar sering bermula dari tindakan kecil yang konsisten, apalagi bila didukung institusi dan komunitas.
Kata Menteri Sosial Masyarakat dan Keagamaan Dema UINSI Samarinda, Muhammad Iqbal Syafi’i Ma’arif: “Tindakan kecil yang dilakukan bersama adalah bentuk pengabdian publik yang menandai kebangkitan kesadaran kolektif terhadap lingkungan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa peran mahasiswa bukan sekadar simbolik, mereka mampu menggerakkan perubahan perilaku publik. Sebagian besar sampah yang mencemari perairan bersumber dari domestik dengan kontribusi besar dari plastik. Di Karang Mumus, catatan DLH Samarinda menunjukkan akumulasi sampah plastik dan organik di bantaran yang memperburuk kualitas air dan meningkatkan risiko penyumbatan saat musim hujan.
Keterlibatan DLH dan Polairud memberi dimensi kebijakan dan penegakan hukum yang krusial. Praktik di beberapa kota menunjukkan bahwa kombinasi edukasi publik, infrastruktur sederhana, dan penegakan hukum dapat menurunkan volume sampah sungai signifikan dalam 1–2 tahun bila ada komitmen berkelanjutan.
Dari perspektif sosial dan keagamaan, merawat lingkungan adalah amanah yang mesti diwujudkan lewat tindakan kolektif. Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran strategis untuk mengedukasi warga, mengadvokasi kebijakan pengelolaan sampah, dan mengawal tindak lanjut yang transparan. Oleh sebab itu, aksi “Aksi Hijau” sebaiknya dilanjutkan dengan program edukasi berbasis komunitas dan kampus serta integrasi nilai kepedulian lingkungan ke kegiatan kemahasiswaan.
Keberhasilan gerakan ini tidak diukur dari kantong sampah yang terisi, melainkan dari terbentuknya kebiasaan kolektif baru warga membuang sampah pada tempatnya, penurunan sampah di aliran sungai, dan kebijakan lokal yang proaktif. Mahasiswa telah membuka pintu, tugas bersama berikutnya adalah memastikan momentum ini menjadi program berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta demi ruang publik yang lebih bersih. Pungkasnya(*)






