Selama delapan tahun terakhir, puluhan desa di Kecamatan Martapura Timur mengalami kegagalan panen. Pembakal Desa Mekar, Kastalani, menyatakan bahwa 10 desa di wilayah tersebut belum pernah mendapatkan hasil panen yang maksimal.
“Desa Mekar, Pamatang Baru, Melayu Ulu, Melayu Tengah, Melayu Ilir, Antasan Senor Ilir, Antasan Senor, Tambak Anyar Ilir, Tambak Anyar, Tambak Anyar Ulu selalu gagal panen,” ujar Kastalani pada Kamis (4/7).
Menurut Kastalani, banjir akibat pasang air sungai menjadi salah satu penyebab utama gagal panen.
“Setiap musim pasang air sungai membanjiri desa-desa ini, menyebabkan lahan pertanian gagal panen,” jelasnya.
Ketua Poktan Desa Mekar, Gusti Suriyani, menambahkan bahwa hanya sekitar 25% lahan pertanian yang bisa ditanami.
“Sistem perairan kurang efektif sehingga area pertanian sering terendam,” tambahnya.
Menanggapi situasi ini, Bupati Banjar H Saidi Mansyur menyatakan akan melakukan pengecekan ulang.
“Kita perlu kajian lebih spesifik di sektor pertanian, termasuk infrastruktur dan bantuan bibit untuk petani,” ujar Saidi.
Saidi menekankan pentingnya bertani dengan mempertimbangkan iklim dan cuaca.
“Bertani harus melihat momen tertentu dan bekerja sama dengan BPS dan BMKG,” lanjutnya.
Kepala Dinas Pertanian Banjar, Warsita, menyebut perubahan iklim ekstrem dan sistem pengairan yang kurang optimal sebagai penyebab gagal panen.
“Sudah ada kerja sama dengan BMKG untuk bercocok tanam sesuai iklim,” ungkap Warsita.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, lahan pertanian yang terendam di Kabupaten Banjar per Juni 2024 mencapai 1.088,5 hektare dari total 49.000 hektare.






