Sekolah Rakyat Samarinda Tunjukkan Hasil Positif, Gedung Permanen Palaran Siap Digunakan Tahun Ajaran Baru

Ketua DPRD Samarinda Helmi Abdullah meninjau kegiatan Sekolah Rakyat di BPMP Kaltim dan melihat langsung perkembangan para siswa yang mengikuti program pendidikan tersebut.

Nalurimedia.id, Samarinda – Perkembangan Program Sekolah Rakyat di Kota Samarinda mendapat apresiasi dari berbagai pihak setelah menunjukkan hasil yang menggembirakan meski baru berjalan selama satu tahun. Di tengah tingginya antusiasme masyarakat, pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di kawasan Palaran juga terus dipacu dan ditargetkan siap digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.

Ketua DPRD Kota Samarinda Helmi Abdullah menyebut para siswa telah mampu memperlihatkan kemampuan dan keterampilan yang berkembang selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

Saat ini, pelaksanaan Sekolah Rakyat di Samarinda masih memanfaatkan tiga lokasi sementara, yakni di BPMP Kaltim, BPVP Samarinda, serta kawasan yang berada di sekitar SMAN 16 Samarinda di Jalan Perjuangan.

“Dari laporan tadi, penerimaan peserta didik yang akan datang nantinya akan disatukan pada sekolah rakyat permanen di Palaran, dengan jumlah sekitar 280 siswa baru 2026/2027 nanti. Saat ini sarana dan prasarananya dikatakan susah siap,” kata Helmi ditemui di BPMP Kaltim, Jalan Cipto Mangunkusumo, Samarinda, Sabtu 20 Juni 2026.

Helmi mengaku terkesan dengan perkembangan para siswa yang dinilai mampu menunjukkan kualitas diri dalam waktu yang relatif singkat.

Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat menjadi kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

“Alhamdulillah, kita lihat tadi baru setahun berdiri saja anak-anak telah menunjukkan kualitas dan keahliannya masing-masing. Maka harapan kita, mereka ini dapat terus dibimbing agar tingkat kepercayaan diri mereka semakin tinggi,” ujar Helmi.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Novan Syahronny menerangkan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak terlepas dari kualitas tenaga pengajar yang dihimpun oleh Kementerian Sosial.

Novan melihat mayoritas tenaga pengajar yang bertugas masih berusia muda, dan berasal dari kalangan lulusan baru atau fresh graduate.

“Kemudian seleksi gurunya bukan hanya dari Samarinda tapi dari daerah lain. Seluruh Indonesia juga ada mengajar di sini,” kata Novan.

Meski sebagian besar guru merupakan tenaga muda, Novan melihat hasil pembentukan karakter siswa berjalan sangat baik.

Dalam kurun waktu satu tahun, perubahan perilaku, kedisiplinan, hingga capaian akademik siswa dinilai meningkat cukup signifikan.

“Padahal siswa-siswa ini memiliki latar belakang desil 1 dan 2, yang masuk dalam kategori masyarakat kurang mampu,” jelas Novan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *