Kasus Bunuh Diri di Jembatan Mahakam Berulang, DPRD Samarinda Soroti Pencegahan

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menyoroti upaya pencegahan kasus bunuh diri di Jembatan Mahakam.

Nalurimedia.id, Samarinda – Meningkatnya kasus bunuh diri yang terjadi di Jembatan Mahakam dalam beberapa waktu terakhir memunculkan keprihatinan mendalam di Kota Samarinda.

Peristiwa yang berulang ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.Salah satu kasus terjadi pada awal Juni lalu.

Seorang pria diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Mahakam setelah ditemukan barang-barang pribadinya beserta sepucuk surat di atas jembatan.

“Maaf sebesar-besarnya siapa yang menemukan aku, jangan dikasih tahu keluargaku. Aku lakukan ini bukan karena ada masalah. Aku nggak sanggup berada di dunia.”

Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengatakan fenomena tersebut dipengaruhi berbagai persoalan kehidupan. Menurutnya, peran Rukun Tetangga (RT) penting untuk mendeteksi dini warga yang mengalami masalah sehingga tindakan serupa dapat dicegah.

“Supaya apa? Supaya mampu mencegah perbuatan tindakan lanjutan. Jika hal seperti ini terus diabaikan, publik akan kehilangan arah untuk mencari jalan keluar. Ditambah lagi jika motifnya adalah masalah asmara, kan repot kita nggak pernah bisa tebak kondisi psikologi seseorang,” jelas Novan.

Selain itu, Novan menilai Jembatan Mahakam maupun Jembatan Kembar perlu dilengkapi pagar pengaman sebagai salah satu langkah pencegahan.

“Memang secara kondisi, memerlukan pagar pengaman. Adanya pagar ini akan membuat orang berpikir dua kali untuk melakukan tindakan bunuh diri karena tidak terfasilitasi oleh kondisi tempat. Saat ini, fasilitas pengaman untuk pejalan kaki memang belum ada, begitu pula pagar pengaman langsung ke arah sungai,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan layanan kesehatan mental yang tersedia di Puskesmas maupun rumah sakit pemerintah. Menurutnya, fasilitas tersebut masih minim dimanfaatkan karena banyak orang memilih memendam persoalannya sendiri.

“Fenomena psikologis ini memang kompleks karena kita tidak pernah bisa membaca atau mengetahui secara pasti suasana hati seseorang,” ungkap Novan.

Novan menambahkan, Pemkot Samarinda melalui DP2KB terus menjalankan sosialisasi program Keluarga Berencana hingga tingkat Posyandu sebagai bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat dan sejahtera.

“Jadi, Keluarga berencana itu bukan hanya dalam pengendalian kelahiran, tetapi juga bagaimana mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Itu semua ada dan terus disosialisasikan sampai ke tingkat Posyandu. Sudah dilakukan dan terus berjalan,” tambahnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya dukungan keluarga dan pendekatan spiritual bagi seseorang yang tengah menghadapi tekanan hidup.

“Andaikata ada permasalahan, paling tidak kita yang pertama umat beragama mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Terus kedua, perlu peran orang tua, kakak, atau saudara yang lebih bisa menjadi jembatan, bukan yang menghakimi. Jadi, curhatnya jangan melalui media sosial tapi melalui orang yang bisa menenangkan perasaan batinnya,” pungkas Novan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *