Nalurimedia.id, Samarinda – Peningkatan upaya deteksi dini terus menjadi fokus Pemerintah Kota Samarinda dalam menangani penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV). Meski jumlah kasus yang terdata terus bertambah, tantangan terbesar masih terletak pada banyaknya penderita yang belum menjalani pengobatan serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak awal.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismed Kusasih, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Samarinda, tetapi juga hampir di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Menurutnya, kasus HIV ibarat fenomena “gunung es”, di mana jumlah yang teridentifikasi belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih banyak penderita yang belum terdeteksi.
“Jadi kalau kita malas-malas melakukan skrining ya enggak kelihatan,” ujarnya saat ditemui belum lama ini di sela kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TBC di Rutan Kelas I Samarinda.
Berdasarkan data hingga akhir 2025, jumlah kasus HIV di Kota Samarinda mencapai sekitar 4.000 orang. Namun, dari angka tersebut, baru sekitar 2.000 penderita yang menjalani pengobatan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan untuk menemukan pasien sekaligus mendorong mereka agar menjalani terapi secara rutin.
Ismed menjelaskan, deteksi dini terhadap penyakit menular seperti HIV maupun tuberkulosis sangat penting untuk menekan penyebaran penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penguatan program skrining terus menjadi salah satu prioritas Dinas Kesehatan.
“Makanya kalau SPM (Standar Pelayanan Minimal) nomor 12, HIV itu adalah capaian resiko penderita HIV. Semakin kita memperkuat skrining, semakin kita menemukan penderita, semakin cepat kita mengobati,” kata dia.
Selain deteksi dini, Ismed menilai stigma masyarakat terhadap penderita HIV masih menjadi kendala dalam upaya penanganan. Rasa takut dikucilkan membuat sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan, padahal langkah tersebut sangat penting untuk mempercepat penanganan dan mencegah penularan lebih luas.
“Stigma itu jangan jauhi orangnya, tapi jauhi penyakitnya. Artinya mereka melakukan mau dilakukan skrining aja kita sudah bersyukur gitu ya terhadap HIV,” pungkasnya.






