Operasional Insinerator Belum Maksimal, DPRD Minta Pemkot Lengkapi Fasilitas Pendukung

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Deni Hakim Anwar menyoroti operasional insinerator yang belum maksimal.

Nalurimedia.id, Samarinda – Upaya pengurangan volume sampah di Kota Samarinda dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. DPRD Kota Samarinda meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda segera membenahi sistem pendukung operasional insinerator agar fasilitas pengolah sampah tersebut dapat bekerja lebih efektif dan memberikan kontribusi maksimal.

Dorongan tersebut muncul setelah Komisi III DPRD Kota Samarinda menemukan berbagai kendala teknis saat melakukan evaluasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Berbagai hambatan itu dinilai mengurangi efektivitas operasional insinerator dalam mendukung target pengurangan sampah di Kota Tepian.

Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan keberadaan insinerator perlu didukung oleh sistem operasional yang memadai agar kapasitas pengolahan sampah dapat dimaksimalkan.

“Kondisi itu membuat sekitar tiga jam waktu operasional terbuang setiap harinya. Padahal target pengurangan sampah melalui insinerator mencapai sekitar delapan hingga 10 ton per hari,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).

Deni menjelaskan, sebelum proses pembakaran dilakukan, insinerator membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai suhu ideal antara 900 hingga 1.000 derajat Celsius. Setelah proses pembakaran selesai, alat tersebut masih memerlukan waktu sekitar dua jam untuk pendinginan sehingga waktu operasional efektif menjadi lebih terbatas.

Menurutnya, kendala lainnya terdapat pada proses pemilahan sampah yang hingga kini masih dilakukan secara manual. Untuk memilah sampah dari satu truk dengan kapasitas sekitar tiga hingga empat ton bahkan dapat memerlukan waktu hingga lima hari.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan operasional insinerator belum didukung oleh subsistem yang memadai. Karena itu, Komisi III meminta Pemkot Samarinda segera melengkapi sarana pendukung, seperti alat pemilah sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga proses pengolahan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Selain aspek teknis, Deni juga menyoroti mekanisme pengangkutan sampah yang masih dinilai kurang efektif. Saat ini sampah harus diangkut terlebih dahulu dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menuju lokasi insinerator. Skema tersebut dinilai menambah biaya operasional sekaligus memperpanjang waktu pengolahan.

“Kami ingin alat ini benar-benar berfungsi optimal. Persoalan sampah di Samarinda membutuhkan solusi yang efektif, sehingga seluruh subsistem pendukung harus segera dipenuhi agar target pengurangan sampah dapat tercapai,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *