Nalurimedia.id- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang untuk mengimpor minyak mentah dari Rusia setelah Indonesia resmi menjadi anggota BRICS.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai langkah ini merupakan peluang strategis. Menurutnya, minyak mentah Rusia yang relatif lebih murah dibandingkan dengan negara lain dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia.
“Ini langkah positif jika Indonesia dapat mengimpor minyak dari Rusia. Selain harga yang lebih murah, impor tersebut bisa membantu menutupi kebutuhan energi nasional,” ujar Fahmy.
Ia menambahkan, produksi minyak dalam negeri yang belum optimal dan cadangan minyak yang semakin menipis menjadi alasan utama perlunya diversifikasi sumber impor. “Impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia terus meningkat karena kebutuhan yang besar. Dengan Rusia menawarkan diskon, impor dari sana bisa jadi alternatif yang menarik,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan lifting minyak sebesar 605.000 barrel oil per day (BOPD) dan lifting gas bumi sebesar 1,005 juta barel setara minyak per hari dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Namun, Fahmy meragukan target tersebut dapat dicapai, mengingat tren penurunan lifting minyak dan gas dalam beberapa tahun terakhir.
“Melihat data historis, produksi minyak Indonesia terus menurun karena cadangan yang semakin habis. Target lifting tahun ini terasa mustahil,” ujar Fahmy.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebut Indonesia sebenarnya sudah bisa mengimpor minyak dari Rusia bahkan sebelum menjadi anggota BRICS. “Embargo dari negara-negara Barat terhadap Rusia memengaruhi harga minyak mentah yang dijual Rusia,” kata Fabby.
Ia juga mengingatkan bahwa PT Pertamina (Persero) sempat berencana membeli minyak dari Rusia, namun batal karena mempertimbangkan potensi sanksi dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Fabby menilai, tidak ada urgensi bagi Indonesia untuk mengimpor minyak dari Rusia saat ini.
“Perlu dilakukan analisis cost-benefit secara menyeluruh. Selama tidak ada gangguan geopolitik atau transportasi yang signifikan, impor dari Rusia sebaiknya dipertimbangkan matang-matang,” ujarnya.
Sebagai informasi, Indonesia resmi bergabung dengan blok ekonomi BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, bebas menjalin kerja sama dengan negara mana pun selama sesuai dengan aturan.
“Bergabungnya Indonesia dengan BRICS membuka peluang untuk mendapatkan minyak dari Rusia. Selama tidak melanggar aturan, kenapa tidak?” kata Bahlil.






