Nalurimedia.id – Dalam satu bulan terakhir saja, Samarinda tercatat mengalami dua kali banjir besar yang mengakibatkan lumpuhnya aktivitas ekonomi dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Iswandi menegaskan bahwa persoalan banjir tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat dampaknya yang sangat luas, mulai dari kerugian material hingga ancaman terhadap keselamatan jiwa.
“Dalam empat kali reses terakhir, aduan masyarakat itu-itu saja, ya pastinya banjir. Bahkan sampai reses yang terakhir pun, keluhan yang saya terima masih sama,” ujarnya, Selasa (3/6/25).
Sebagai langkah konkret. Ia berencana meninjau ulang blueprint penanganan banjir yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Samarinda. Dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan di atas kertas dan pelaksanaan di lapangan.
“Banjir itu berkaitan langsung dengan infrastruktur. Artinya kita bicara soal normalisasi drainase, perbaikan saluran air, dan sistem pengendalian banjir yang terintegrasi. Ini harus jadi prioritas,” tambahnya.
Namun, ia juga menyoroti peran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda yang menurutnya harus mendapat dukungan anggaran yang cukup agar dapat bertindak cepat dalam kondisi darurat.
“Berapa anggaran untuk infrastruktur yang benar-benar difokuskan untuk penanganan banjir? Jangan sampai proyek lain yang tidak terlalu mendesak justru lebih besar anggarannya dari pada yang benar-benar dibutuhkan warga,” tandasnya.
Hal ini, banjir bukan sekadar persoalan musiman, melainkan tantangan permanen yang memerlukan penanganan komprehensif dan sinergi dari seluruh pihak terkait.






