Nalurimedia.id – Hari ke-2 Festival Seni dan Budaya yang diselenggarakan oleh Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) Kutai Kartanegara (Kukar) menampilkan berbagai lomba olahraga tradisional, seperti Belogo, Begasing, Behempas, dan Menyumpit, serta lomba kuliner tradisional berbahan dasar singkong.
Acara ini diselenggarakan di lapangan basket Stadion Rondong Demang, Tenggarong, dengan tujuan melestarikan budaya Dayak yang kaya akan warisan adat dan seni.
Zikri Umulda, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, menjelaskan bahwa meski anggaran untuk festival ini terbatas, pihaknya tetap berupaya menyelenggarakan acara yang berkesan.
“Biasanya anggaran untuk kegiatan seperti ini diajukan di akhir tahun. Untuk festival adat Dayak ini, proposalnya diajukan pada 2023 dan pelaksanaannya di 2024,” jelas Zikri.
Ia menambahkan bahwa anggaran festival ini sekitar Rp500 juta, angka yang dianggap cukup minimal untuk acara sebesar ini.
Meskipun dengan dana yang terbatas, Dispar Kukar berhasil menyelenggarakan acara yang meriah dan mengena di hati masyarakat.
“Dengan acara semegah ini, kita harus pintar-pintar menghemat anggaran, tapi tetap membuatnya berkesan bagi masyarakat,” tambah Zikri.
Selain olahraga tradisional, lomba kuliner tradisional yang menggunakan bahan dasar singkong menjadi daya tarik tersendiri dalam festival ini. Beragam hidangan tradisional berbahan singkong diperlombakan untuk menunjukkan kekayaan kuliner lokal serta keanekaragaman olahan pangan yang ada di masyarakat Dayak.
Festival ini menjadi ajang penting dalam pelestarian budaya dan tradisi Dayak, yang terus mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah. Dengan terselenggaranya acara ini, budaya Dayak dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi, sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda.
Selain melestarikan budaya, acara ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan pariwisata di Kukar, dengan harapan menarik lebih banyak pengunjung ke daerah tersebut.
“Festival ini tidak hanya untuk masyarakat lokal, tapi juga bisa menjadi magnet pariwisata bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam budaya Dayak,” jelas Zikri.(DV/Adv)






